Kamis, 21 April 2016

Otokritik Ber-Organisasi Seorang Pembelajar (2)


Wajar jika di kampus, mereka selalu dicap sinis. Bagaimana tidak sinis. Tidak ada signifikasi yang dilakukan orang orang organisasi ini di kampus. Kontraproduktif atau sudah tidak banyak aktivitas yang  dilakukan. di kampus sehingga tidak berbeda seperti wahana permainan. Datang dan pergi. Tidak berbekas, tidak menghasilkan menjadi tidak bermanfaat. Bagaimana ingin memberi manfaat, bergerak saja tidak. Akhirnya menjadi sebuah paradoks. Saat organisasi itu kian berkembang dengan evolusi dan dinamisasi yang berasal dari dalam dan luar. Organisasi ini justru mengalami perkembangan yang samar, sebuah involusi, atau perkembangan ke dalam. Pada kenyataannya sebuah perubahan ini, yang justru tidak memajukan. Perlahan arah perubahan secara involusi ini mengakibatkan kemunduran-kemunduran signifikan yang mempersempit skema berpikir orang-orang organisasi ini. Tidak ada yang disalahkan , sekarang mari melihat pada diri masing-masing. Merupakan kesalahan besar apabila melemparkannya ke orang lain. Rasa nya akan terlihat bagaimana seharusnya merefleksikan diri bila sudah pernah bercermin dari sejarah.
Anggota-anggota organisasi ini seperti kehilangan arah, atau jangan-jangan sudah kehilangan arah. Yang lebih parah lagi tidak punya arah, ketidakpunyaan arah mempengaruhi tujuan untuk organisasi. Sebelum mengetahui tujuan organisasi perlu mengetahui tujuan untuk dirinya sendiri, kita ingin menjadi apa dan bagaimana. Untuk apa berkuliah, untuk apa di kampus dan (baru) untuk apa berorganisasi. Sehingga wajar apabila penilaian publik tidak cukup baik tentang organisasi yang lahir dengan tujuan mempertahankan kemerdekaan,  mempertinggi derajat rakyat Indonesia, dan Menegakkan serta mengembangkan ajaran Islam. Berorganisasi haruslah sadar bahwa penilaian bukan karena pandangan orang dalam tentang organisasinya sendiri. Tetapi identitas juga adalah karena penilaian orang lain.
Pengelakan adalah sesuatu yang wajar, tetapi menerimanya sebagai sebuah kritik, adalah hal yang tidak bisa dilakukan banyak orang. Dalam tahun-tahun belakangan. Organisasi ini seolah bebas dari kritik. Tidak soal orang lain, tetapi tentang dirinya sendiri. Bebas dari kritik berarti sudah lama tidak ada kritik. Sudah lama tidak ada kritik tidak berarti anti-kritik. Tetapi keadaan yang menciptakan suatu kondisi dimana tidak mengakomodir ruang untuk kritik. Kritik yang positif tentunya diantara anggota organisasi ini. Mereka (orang dalam) tidak sadar satu sama lain dengan tidak adanya kritik tentang dirinya sendiri, atau tentang organisasi, atau ada yang salah dengan rekannya. Jangankan dulu mengkritik yang besar-besar. Sadar atau tidak sadar, tidak terbangunya budaya kritik adalah sebuah kekeliruan. Keliru karena tidak terbangunya dinamisasi yang baik. kekeliruan pada semua bagian yang terafiliasi dengan organisasi itu mengenai ketidaksadaran dirinya dengan adanya sebuah kritik, atau ketiadaan kritik itu sendiri. Kekeliruan selanjutnya adalah sebuah kesadaran yang menganggap bahwa keliruan, kejanggalan atau kesalahan yang berada di sekitarnya tidak disadari sebagai sebuah kekeliruan, yang harus diluruskan dan dicari solusi penyelesaiannya.
Egosentrik, persepsi dan kesadaran yang dibangun dan dikonstruksikan kalau orang-orang yang sudah terdengar namanya adalah calon petinggi dan orang besar. Dan stigmatisasi yang dibangun oleh atas, pemahaman bahwa yang ideal yang dulu-dulu pernah dilakukan kelak akan memberi pengaruh. Yang berakibat tidak ada tindakan., merasa seolah-olah semuanya berjalan baik-baik saja, tidak ada masalah, apalagi pertentangan. Hanya karena dirinya merasa sudah tahu, kemudian menutup diri dengan pemikiran lain. lebih asyik dengan dunia pemikirannya sendiri. Merasa ideal pun, belum tentu. Hanya karena merasa sudah tahu banyak, belajar dengan hal-hal baru disekitarnya adalah hal-hal yang tabu.
Banyak yang menulis bahwa “Perubahan berasal dari mimpi nya”namun sama saja, meski perubahan lahir dari mimpi, tetapi mimpi hanyalah mimpi jika tanpa tindakan. Dogma-dogma sejenis kesadaran tumpul, yang memang mengurung anggota-anggota organisasi ini ke dalam suatu wilayah mimpi yang tidak sesuai pada kenyataan. Berpikir kreatif, bergerak maju dan memasyarakat kan diri di kampus adalah tuntutan bagi organisasi ini agar terbinanya insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang  diridhoi Allah SWT. Itu adalah saran dari penulis bagi masa depan organisasi yang sama-sama kita sayangi.

Tidak ada komentar: