Wajar jika di kampus, mereka selalu dicap
sinis. Bagaimana tidak sinis. Tidak ada signifikasi yang dilakukan orang orang
organisasi ini di kampus. Kontraproduktif atau sudah tidak banyak aktivitas
yang dilakukan. di kampus sehingga tidak
berbeda seperti wahana permainan. Datang dan pergi. Tidak berbekas, tidak
menghasilkan menjadi tidak bermanfaat. Bagaimana ingin memberi manfaat, bergerak
saja tidak. Akhirnya menjadi sebuah paradoks. Saat organisasi itu kian
berkembang dengan evolusi dan dinamisasi yang berasal dari dalam dan luar.
Organisasi ini justru mengalami perkembangan yang samar, sebuah involusi, atau
perkembangan ke dalam. Pada kenyataannya sebuah perubahan ini, yang justru tidak
memajukan. Perlahan arah perubahan secara involusi ini mengakibatkan
kemunduran-kemunduran signifikan yang mempersempit skema berpikir orang-orang organisasi
ini. Tidak ada yang disalahkan , sekarang mari melihat pada diri masing-masing.
Merupakan kesalahan besar apabila melemparkannya ke orang lain. Rasa nya akan
terlihat bagaimana seharusnya merefleksikan diri bila sudah pernah bercermin
dari sejarah.
Anggota-anggota
organisasi ini seperti kehilangan arah, atau jangan-jangan sudah kehilangan
arah. Yang lebih parah lagi tidak punya arah, ketidakpunyaan arah mempengaruhi
tujuan untuk organisasi. Sebelum mengetahui tujuan organisasi perlu mengetahui
tujuan untuk dirinya sendiri, kita ingin menjadi apa dan bagaimana. Untuk apa
berkuliah, untuk apa di kampus dan (baru) untuk apa berorganisasi. Sehingga
wajar apabila penilaian publik tidak cukup baik tentang organisasi yang lahir
dengan tujuan mempertahankan kemerdekaan,
mempertinggi derajat rakyat Indonesia, dan Menegakkan serta
mengembangkan ajaran Islam. Berorganisasi haruslah sadar bahwa penilaian bukan
karena pandangan orang dalam tentang organisasinya sendiri. Tetapi identitas
juga adalah karena penilaian orang lain.
Pengelakan adalah sesuatu yang wajar, tetapi
menerimanya sebagai sebuah kritik, adalah hal yang tidak bisa dilakukan banyak
orang. Dalam tahun-tahun belakangan. Organisasi ini seolah bebas dari kritik.
Tidak soal orang lain, tetapi tentang dirinya sendiri. Bebas dari kritik berarti
sudah lama tidak ada kritik. Sudah lama tidak ada kritik tidak berarti
anti-kritik. Tetapi keadaan yang menciptakan suatu kondisi dimana tidak
mengakomodir ruang untuk kritik. Kritik yang positif tentunya diantara anggota
organisasi ini. Mereka (orang dalam) tidak sadar satu sama lain dengan tidak
adanya kritik tentang dirinya sendiri, atau tentang organisasi, atau ada yang
salah dengan rekannya. Jangankan dulu mengkritik yang besar-besar. Sadar atau
tidak sadar, tidak terbangunya budaya kritik adalah sebuah kekeliruan. Keliru
karena tidak terbangunya dinamisasi yang baik. kekeliruan pada semua bagian
yang terafiliasi dengan organisasi itu mengenai ketidaksadaran dirinya dengan
adanya sebuah kritik, atau ketiadaan kritik itu sendiri. Kekeliruan selanjutnya
adalah sebuah kesadaran yang menganggap bahwa keliruan, kejanggalan atau
kesalahan yang berada di sekitarnya tidak disadari sebagai sebuah kekeliruan,
yang harus diluruskan dan dicari solusi penyelesaiannya.
Egosentrik, persepsi dan kesadaran yang dibangun
dan dikonstruksikan kalau orang-orang yang sudah terdengar namanya adalah calon
petinggi dan orang besar. Dan stigmatisasi yang dibangun oleh atas, pemahaman
bahwa yang ideal yang dulu-dulu pernah dilakukan kelak akan memberi pengaruh.
Yang berakibat tidak ada tindakan., merasa seolah-olah semuanya berjalan
baik-baik saja, tidak ada masalah, apalagi pertentangan. Hanya karena dirinya
merasa sudah tahu, kemudian menutup diri dengan pemikiran lain. lebih asyik
dengan dunia pemikirannya sendiri. Merasa ideal pun, belum tentu. Hanya karena
merasa sudah tahu banyak, belajar dengan hal-hal baru disekitarnya adalah
hal-hal yang tabu.
Banyak yang menulis bahwa “Perubahan berasal
dari mimpi nya”namun sama saja, meski perubahan lahir dari mimpi, tetapi mimpi
hanyalah mimpi jika tanpa tindakan. Dogma-dogma sejenis kesadaran tumpul, yang
memang mengurung anggota-anggota organisasi ini ke dalam suatu wilayah mimpi yang
tidak sesuai pada kenyataan. Berpikir kreatif, bergerak maju dan memasyarakat
kan diri di kampus adalah tuntutan bagi organisasi ini agar terbinanya insan
akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah SWT. Itu adalah saran dari penulis bagi masa depan organisasi yang
sama-sama kita sayangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar