Jika himpunan ini
merupakan sebuah mesin dakwah dalam menjalankan proyek peradaban, sesungguhnya
organisasi ini membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategi. Saat ini hampir
seluruh negara islam, sedang dalam proses “menegara”. Mark Juergensmeyer bahkan
menyebut fenomena ini sebagai gejala kebangkitan global dari “nasionalisme
religius”. Yang ingin saya bicarakan adalah himpunan saat ini sangat
membutuhkan kehadiran sejumlah pemikir strategi. Karena itu saya merasa bahwa
generasi para “ideolog” telah melakukan tugas mereka dengan baik.
Seperti Sayyid Quthub, Yusuf Al Qardhawi di
Mesir, Al-Maududi di Pakistan, K. H Wahid Hasyim , K. H Ahmad Dahlan, Buya
Hamka, Cak Nur, Bang Imad di Indonesia telah membangun suatu basis pemikiran
yang kokoh bagi kebangkitan Islam di dunia. Kini tiba saatnya peran mereka
dilanjutkan oleh generasi baru, generasi pemikir strategi yang bertugas
menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan himpunan. Saya tidak
mengatakan generasi itu belum ada. Tapi saya ingin mengatakan bahwa pustaka
dunia islam masih dipenuhi oleh tulisan para ideolog tersebut, dibanding
generasi baru yang kita harapkan.
Para pemikir strategi
adalah orang-orang yang berfikir dalam kerangka kesisteman, menggabungkan
banyak disiplin ilmu, dan meramu nya menjadi sebuah struktur pemikiran yang
utuh, menjelaskan bagaimana tujuan himpunan, cara dan sarana terintegrasi
menjadi satu kesatuan. Pemikir strategi,beserta pemikiran-pemikiran mereka ini
bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan sendiri oleh seorang pemikir. Oleh sebab
itu, kehadiran sejumlah pemikir strategi dengan kualifikasi yang baik serta
bekerja dengan metodologi yang handal itulah yang himpunan perlukan.
Strategi bukanlah
sebuah sebuah disiplin ilmu. Ia adalah seni tentang bagaimana memanfaatkan
berbagai disiplin ilmu untuk mencapai tujuan tertentu. Itulah yang menjelaskan
mengapa metode merupakan salah satu bagian inti dari strategi. Dalam konteks
himpunan saat ini, ada setidak-tidak nya dua bidang yang perlu di garap oleh
kelompok pemikir strategi ini. Pertama, strategi gerakan, yaitu merumuskan
strategi untuk mengembangkan himpunan dimulai dari pra kuliah, kader
kepemimpinan.
Kedua, melaksanakan
usaha-usaha yang termaktub dalam anggaran dasar diantara nya mempelopori
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan ummat,
memajukan kehidupan ummat dalam mengamalkan dienul islam dalam kehidupan
pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, berperan aktif dalam dunia
kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan
nasional serta ikut terlibat aktif dalam penyelesaian persoalan sosial
kemasyarakatan, kebangsaan.
Para pemikir strategi
harus mempunyai basis yang kuat pada dua lingkaran pengetahuan. Pertama basis
ilmu-ilmu keislaman. Kedua, basis ilmu-ilmu sosial humaniora. Azyumardi Azra
diakhir tulisannya yang berjudul “Modernisasi
Himpunan Mahasiswa Islam” menjelaskan bahwa para kader HMI dari sisi
praktek ilmu-ilmu keislaman lebih mirip dengan Muhammadiyah ketimbang NU, yang
menekankan aspek kognitif (pengetahuan) daripada afektif (sikap).
Dengan alasan bahwa
pengembangan pemikiran dan sikap keberagamaan lebih ditekankan pada akal
dibandingkan qalb Saya tidak
menafikan hal itu. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak mengaplikasikan nya.
Karena, basis ilmu-ilmu keislaman dan sikap keberagamaan yang seimbang antara
akal dan qalbu bukan saja akan memberikan imunitas pemikiran dan cultural, tapi
juga kemampuan mencipta sesuatu yang baru dan memilah. Sebagaimana diceritakan
dalam Al-Qur’an tentang susu: datangnya dari antara kotoran dan darah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar