Rabu, 06 April 2016

HMI perlu para pemikir strategi



Jika himpunan ini merupakan sebuah mesin dakwah dalam menjalankan proyek peradaban, sesungguhnya organisasi ini membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategi. Saat ini hampir seluruh negara islam, sedang dalam proses “menegara”. Mark Juergensmeyer bahkan menyebut fenomena ini sebagai gejala kebangkitan global dari “nasionalisme religius”. Yang ingin saya bicarakan adalah himpunan saat ini sangat membutuhkan kehadiran sejumlah pemikir strategi. Karena itu saya merasa bahwa generasi para “ideolog” telah melakukan tugas mereka dengan baik.
Seperti Sayyid Quthub, Yusuf Al Qardhawi di Mesir, Al-Maududi di Pakistan, K. H Wahid Hasyim , K. H Ahmad Dahlan, Buya Hamka, Cak Nur, Bang Imad di Indonesia telah membangun suatu basis pemikiran yang kokoh bagi kebangkitan Islam di dunia. Kini tiba saatnya peran mereka dilanjutkan oleh generasi baru, generasi pemikir strategi yang bertugas menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan himpunan. Saya tidak mengatakan generasi itu belum ada. Tapi saya ingin mengatakan bahwa pustaka dunia islam masih dipenuhi oleh tulisan para ideolog tersebut, dibanding generasi baru yang kita harapkan.
Para pemikir strategi adalah orang-orang yang berfikir dalam kerangka kesisteman, menggabungkan banyak disiplin ilmu, dan meramu nya menjadi sebuah struktur pemikiran yang utuh, menjelaskan bagaimana tujuan himpunan, cara dan sarana terintegrasi menjadi satu kesatuan. Pemikir strategi,beserta pemikiran-pemikiran mereka ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan sendiri oleh seorang pemikir. Oleh sebab itu, kehadiran sejumlah pemikir strategi dengan kualifikasi yang baik serta bekerja dengan metodologi yang handal itulah yang himpunan perlukan.
Strategi bukanlah sebuah sebuah disiplin ilmu. Ia adalah seni tentang bagaimana memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai tujuan tertentu. Itulah yang menjelaskan mengapa metode merupakan salah satu bagian inti dari strategi. Dalam konteks himpunan saat ini, ada setidak-tidak nya dua bidang yang perlu di garap oleh kelompok pemikir strategi ini. Pertama, strategi gerakan, yaitu merumuskan strategi untuk mengembangkan himpunan dimulai dari pra kuliah, kader kepemimpinan.
Kedua, melaksanakan usaha-usaha yang termaktub dalam anggaran dasar diantara nya mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan ummat, memajukan kehidupan ummat dalam mengamalkan dienul islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional serta ikut terlibat aktif dalam penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan, kebangsaan.
Para pemikir strategi harus mempunyai basis yang kuat pada dua lingkaran pengetahuan. Pertama basis ilmu-ilmu keislaman. Kedua, basis ilmu-ilmu sosial humaniora. Azyumardi Azra diakhir tulisannya yang berjudul “Modernisasi Himpunan Mahasiswa Islam” menjelaskan bahwa para kader HMI dari sisi praktek ilmu-ilmu keislaman lebih mirip dengan Muhammadiyah ketimbang NU, yang menekankan aspek kognitif (pengetahuan) daripada afektif (sikap).
Dengan alasan bahwa pengembangan pemikiran dan sikap keberagamaan lebih ditekankan pada akal dibandingkan qalb Saya tidak menafikan hal itu. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak mengaplikasikan nya. Karena, basis ilmu-ilmu keislaman dan sikap keberagamaan yang seimbang antara akal dan qalbu bukan saja akan memberikan imunitas pemikiran dan cultural, tapi juga kemampuan mencipta sesuatu yang baru dan memilah. Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an tentang susu: datangnya dari antara kotoran dan darah.

Tidak ada komentar: