Oleh RPHW
Rupa-rupa organisasi sebenarnya semua sama,
yang membedakan adalah budaya, tujuan dan cara memanifestasikan tujuan tersebut
lewat aktivitas orang-orang di dalam organisasi tersebut. Ketika organisasi
‘pernah’ menjadi persinggahan banyak orang-orang yang (sudah) menjadi tokoh,
sepenggal kisahnya masih ada di perbincangan aktivis-aktivis, atau orang awan,
atau para intelektual, atau para mahasiswa yang tidak menahu tentang hal yang
lebih dalam, baik dalam lingkup positif dan negatif torehan-torehan lulusan
organisasi. Hanya karena organisasi ini punya nama, lantas yang bergabung di
dalamnya pun mengemban atribut simbolis dari nama tersebut. Hanya karena organisasi
ini dipandang besar, serta-merta kebesaran tersebut membuat ‘silau’ secara
sadar maupun tidak sadar, baik kader, atau orang yang pernah berkecimpung.
Percayalah, nama-nama besar tersebut
sesungguhnya adalah penjara! Penjara karena ia mengurung dan seolah memberi
kepercayaan bahwa organisasi tersebut selalu produktif, selalu hebat, dan
selalu bisa diandalkan. Penjara karena nyatanya tidak banyak yang dilakukan
oleh anggota-anggota organisasi ini di lini kampusnya masing-masing, selain mengungkit
masalah-masalah kecil dan nama besar
tokoh-tokohnya. Mereka lupa kalau manifestasi organisasi ada di para
kader-kader, anggota-anggotanya, yang menjadi penerus bagi estafet idealisme
sebuah organisasi. Baik buruknya tindakan yang dilakukannya nama besar tidak
menjadikan apa-apa. Hanya saja kebetulan jika nama organisasi itu besar, hal
tersebut adalah implikasi dari reputasinya, atau penilaian kalangan-kalangan
terhadap orang-orang di dalamnya.
Organisasi besar karena orang-orangnya.
Organisasi tidak akan dipandang besar, apalagi berpengaruh, kalau hanya diisi
oleh orang biasa-biasa. Yang mengistimewakan organisasi adalah orang-orangnya. Melantunkan
kebesaran tokoh-tokoh ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Tidak bergema, tidak
berdampak, sangat insidental. Apa dampak setelah orang-orang tahu kalau dulu
pernah ada tokoh yang pernah mengambil bagian proses. Dalam sebuah siklus,
sudah kewajiban organisasi menyediakan ruang tersebut untuk berproses. Karena
orang-orang akan silih datang dan pergi. Tidak ada yang bisa dibanggakan
kecuali dirinya sendiri. Bukan soal apa yang diperoleh, tetapi apa yang sudah
dilakukan, diberikan.
Menyoal kan tentang Himpunan Mahasiswa Islam. Ya,
Organisasi ini punya taring dan hampir banyak pihak memberi banyak penyudutan,
baik ini yang sebenarnya terjadi, atau cuma tuduhan lewat isu-isu. Yang paling
tidak mengenakkan, adalah 2 cap publik
tentang organisasi ini. Yang pertama dicap liberal. Kedua, dicap politis. Cap
pertama mungkin melekat hanya pada momen-momen khusus saja, atau setidaknya
hanya di wilayah organisasi yang ‘sealiran’. Yang parah adalah pelabelan cap politis.
Setiap orang yang masuk organisasi ini, akan dilabeli politis, atau
berorientasi politis. Padahal tidak semua orang yang di dalam punya
ketertarikan terhadap wilayah politis dan sebenarnya justru hanya sedikit saja
orang di dalam yang berorientasi politis.
Tetapi,
publik mana peduli. Bahwa ketertarikan orang-orang didalam organisasi ini
banyak mengambil wilayah lain yang non-politis. Sekilas tidak ada yang salah dengan tempat
berproses, sebab ia hanyalah wadah . Namun, untuk kelompok-kelompok atau
perseorangan yang tidak atau kurang menerima keberadaan anggota organisasi ini
akan diidentifikasi sebagai orang yang punya kepentingan politis.
Gerak-geriknya dicurigai, dipandang sinis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar