Minggu, 08 Mei 2016

Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis

https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQggt1qCfA6hPyn5r6HY-Bj9BRwtkmDGFyyrZm9vzsrpyuTE-qJAQ 



Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa lalu jika tidak ada pena yang digerakkan untuk menulis apa yang telah terjadi. Dengan menulis orang sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan -yang paling penting- meninggalkan jejak pikiran untuk masa yang tak terhingga.  Tulisan juga memberikan fakta masa silam dan tanpa adanya pena yang digerakkan, sungguh umat manusia akan sulit berkembang, mencapai kemajuan sains dan teknologi seperti saat ini. Namun, menulis bukan semata untuk sains dan teknologi, tetapi juga untuk membangun peradaban. Peradaban, metodologi dan cara pandang tak bisa lepas dari gagasan dan pemikiran. Pemikiran yang lahir perlu dituangkan dalam tulisan. “Kendati bukan satu-satunya jalan, menulis dapat mengejawantahkan eksistensi pelakunya”.
Dalam kontek ilmiah dan peradaban, gagasan seorang Muhammad Quthb dalam bukunya “Kaifa Naktubu Attarikhul Islam?”  yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia dengan judul “Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam?” menjadi satu kesadaran yang wajar. Mengingat dunia di abad modern ini telah terhegemoni sedemikian rupa oleh peradaban materialistik Barat. Senafas dengan apa yang digagas Muhammad Quthb, Ahmad Mansur Suryanegara termasuk sosok yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menghadirkan literasi sejarah yang mengangkat kontribusi, kiprah dan perjuangan umat Islam sebagaimana benar-benar pernah terjadi dalam sejarah panjang bumi Nusantara hingga terbentuk Indonesia merdeka yang belum ditulis secara komprehensif oleh pemerintah.
Dan, dengan hadirnya buku “Api Sejarah”, bangsa Indonesia pun semakin paham bahwa umat Islam tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mesti disadari secara ilmiah bahwa dalam setiap masa kehidupan umat manusia, interaksi peradaban baik yang bersifat saling serang dalam kontek senjata maupun pikiran tidak bisa ditanggalkan. Termasuk seperti yang sekarang massif terjadi, yakni perang informasi. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh tinggal diam, berpangku tangan dengan apa yang menggelegar di setiap momentum yang mengitari kehidupan bangsa dan negara di mana kita hidup dan eksis. Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis sangat penting untuk menyadari bahwa selama ini bangsa ini telah terseret jauh dengan cara pandang peradaban Barat.
Sebagai Muslim yang mesti juga ber-Indonesia dengan baik, nasehat K.H Agus Salim untuk bangsa ini yang tertuang dalam artikelnya “Cinta Bangsa dan Tanah Air” yang diterbitkan pada Harian Fajar Asia di tanggal 28 Juli 1928 “…demikian juga dalam cinta tanah air, kita mesti menunjukkan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Jika dalam Al-Qur’an ada perintah “fastabiqul khairat”, berlomba-lomba dalam kebaikan, maka sudah saatnya kini generasi muda Muslim bangkit dan menulis, sebab bagaimanapun Barat juga memiliki berbagai keunggulan; bisa kita lihat dari etos keilmuannya selama berabad-abad, melalui pena yang terus mereka gerakkan dan sebarkan.

Tidak ada komentar: