Kita tidak akan pernah
tahu apa yang terjadi di masa lalu jika tidak ada pena yang digerakkan untuk menulis
apa yang telah terjadi. Dengan menulis orang sekaligus berekspresi,
berkomunikasi dan -yang paling penting- meninggalkan jejak pikiran untuk masa
yang tak terhingga. Tulisan juga
memberikan fakta masa silam dan tanpa adanya pena yang digerakkan, sungguh umat
manusia akan sulit berkembang, mencapai kemajuan sains dan teknologi seperti
saat ini. Namun, menulis bukan semata untuk sains dan teknologi, tetapi juga
untuk membangun peradaban. Peradaban, metodologi dan cara pandang tak bisa
lepas dari gagasan dan pemikiran. Pemikiran yang lahir perlu dituangkan dalam
tulisan. “Kendati bukan satu-satunya jalan, menulis dapat mengejawantahkan
eksistensi pelakunya”.
Dalam kontek ilmiah dan
peradaban, gagasan seorang Muhammad Quthb dalam bukunya “Kaifa Naktubu Attarikhul Islam?”
yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia dengan judul “Perlukah Menulis
Ulang Sejarah Islam?” menjadi satu kesadaran yang wajar. Mengingat dunia di
abad modern ini telah terhegemoni sedemikian rupa oleh peradaban materialistik
Barat. Senafas dengan apa yang digagas Muhammad Quthb, Ahmad Mansur Suryanegara
termasuk sosok yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menghadirkan
literasi sejarah yang mengangkat kontribusi, kiprah dan perjuangan umat Islam
sebagaimana benar-benar pernah terjadi dalam sejarah panjang bumi Nusantara
hingga terbentuk Indonesia merdeka yang belum ditulis secara komprehensif oleh
pemerintah.
Dan, dengan hadirnya
buku “Api Sejarah”, bangsa Indonesia pun semakin paham bahwa umat Islam tidak
bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya bangsa dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Mesti disadari secara ilmiah bahwa dalam setiap masa kehidupan umat
manusia, interaksi peradaban baik yang bersifat saling serang dalam kontek
senjata maupun pikiran tidak bisa ditanggalkan. Termasuk seperti yang sekarang
massif terjadi, yakni perang informasi. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak
boleh tinggal diam, berpangku tangan dengan apa yang menggelegar di setiap
momentum yang mengitari kehidupan bangsa dan negara di mana kita hidup dan
eksis. Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis sangat penting untuk
menyadari bahwa selama ini bangsa ini telah terseret jauh dengan cara pandang
peradaban Barat.
Sebagai Muslim yang
mesti juga ber-Indonesia dengan baik, nasehat K.H Agus Salim untuk bangsa ini
yang tertuang dalam artikelnya “Cinta Bangsa dan Tanah Air” yang diterbitkan
pada Harian Fajar Asia di tanggal 28 Juli 1928 “…demikian juga dalam cinta tanah air, kita mesti menunjukkan cita-cita
kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada
hak, keadilan, dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Jika dalam Al-Qur’an ada perintah “fastabiqul khairat”, berlomba-lomba
dalam kebaikan, maka sudah saatnya kini generasi muda Muslim bangkit dan
menulis, sebab bagaimanapun Barat juga memiliki berbagai keunggulan; bisa kita
lihat dari etos keilmuannya selama berabad-abad, melalui pena yang terus mereka
gerakkan dan sebarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar