Sabtu, 26 Maret 2016

Otokritik Ber-Organisasi Seorang Pembelajar (1)




Oleh RPHW
Rupa-rupa organisasi sebenarnya semua sama, yang membedakan adalah budaya, tujuan dan cara memanifestasikan tujuan tersebut lewat aktivitas orang-orang di dalam organisasi tersebut. Ketika organisasi ‘pernah’ menjadi persinggahan banyak orang-orang yang (sudah) menjadi tokoh, sepenggal kisahnya masih ada di perbincangan aktivis-aktivis, atau orang awan, atau para intelektual, atau para mahasiswa yang tidak menahu tentang hal yang lebih dalam, baik dalam lingkup positif dan negatif torehan-torehan lulusan organisasi. Hanya karena organisasi ini punya nama, lantas yang bergabung di dalamnya pun mengemban atribut simbolis dari nama tersebut. Hanya karena organisasi ini dipandang besar, serta-merta kebesaran tersebut membuat ‘silau’ secara sadar maupun tidak sadar, baik kader, atau orang yang pernah berkecimpung.
Percayalah, nama-nama besar tersebut sesungguhnya adalah penjara! Penjara karena ia mengurung dan seolah memberi kepercayaan bahwa organisasi tersebut selalu produktif, selalu hebat, dan selalu bisa diandalkan. Penjara karena nyatanya tidak banyak yang dilakukan oleh anggota-anggota organisasi ini di lini kampusnya masing-masing, selain mengungkit masalah-masalah  kecil dan nama besar tokoh-tokohnya. Mereka lupa kalau manifestasi organisasi ada di para kader-kader, anggota-anggotanya, yang menjadi penerus bagi estafet idealisme sebuah organisasi. Baik buruknya tindakan yang dilakukannya nama besar tidak menjadikan apa-apa. Hanya saja kebetulan jika nama organisasi itu besar, hal tersebut adalah implikasi dari reputasinya, atau penilaian kalangan-kalangan terhadap orang-orang di dalamnya.
Organisasi besar karena orang-orangnya. Organisasi tidak akan dipandang besar, apalagi berpengaruh, kalau hanya diisi oleh orang biasa-biasa. Yang mengistimewakan organisasi adalah orang-orangnya. Melantunkan kebesaran tokoh-tokoh ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Tidak bergema, tidak berdampak, sangat insidental. Apa dampak setelah orang-orang tahu kalau dulu pernah ada tokoh yang pernah mengambil bagian proses. Dalam sebuah siklus, sudah kewajiban organisasi menyediakan ruang tersebut untuk berproses. Karena orang-orang akan silih datang dan pergi. Tidak ada yang bisa dibanggakan kecuali dirinya sendiri. Bukan soal apa yang diperoleh, tetapi apa yang sudah dilakukan, diberikan.
Menyoal kan tentang Himpunan Mahasiswa Islam. Ya, Organisasi ini punya taring dan hampir banyak pihak memberi banyak penyudutan, baik ini yang sebenarnya terjadi, atau cuma tuduhan lewat isu-isu. Yang paling tidak mengenakkan, adalah  2 cap publik tentang organisasi ini. Yang pertama dicap liberal. Kedua, dicap politis. Cap pertama mungkin melekat hanya pada momen-momen khusus saja, atau setidaknya hanya di wilayah organisasi yang ‘sealiran’. Yang parah adalah pelabelan cap politis. Setiap orang yang masuk organisasi ini, akan dilabeli politis, atau berorientasi politis. Padahal tidak semua orang yang di dalam punya ketertarikan terhadap wilayah politis dan sebenarnya justru hanya sedikit saja orang di dalam yang berorientasi politis.
 Tetapi, publik mana peduli. Bahwa ketertarikan orang-orang didalam organisasi ini banyak mengambil wilayah lain yang non-politis. Sekilas tidak ada yang salah dengan tempat berproses, sebab ia hanyalah wadah . Namun, untuk kelompok-kelompok atau perseorangan yang tidak atau kurang menerima keberadaan anggota organisasi ini akan diidentifikasi sebagai orang yang punya kepentingan politis. Gerak-geriknya dicurigai, dipandang sinis.